Apa Penyebab SPT Jadi Kurang Bayar? Istilah SPT kurang bayar maupuan lebih bayar atau nihil selalu muncul padaa saat melakukan penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan.

Penyebab SPT menjadi kurang bayar, lebih bayar atau nihil disebabkan oleh berbagai macam hal.

Perbedaan status pelaporan SPT

  • Status SPT nihil jika tidak ada kelebihan ataupun kekurangan pembayaran pajak
  • Status SPT kurang bayar jika ada kekurangan pembayaran pajak yang harus dibayarkan terlebih dahulu
  • Status SPT lebih bayar terjadi jika pajak yang telah dibayarkan ternyata melebihi dari yang seharusnya dibayarkan dan Wajib Pajak (WP) bisa mengajukan restitusi ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP)

Penghitungan PPh kurang bayar atau lebih bayar, terdapat  dari pengurangan PPh terutang dengan seluruh kredit pajak yang dimiliki.

Baik itu kredit pajak pada tahun pajak berjalan (PPh Pasal 25) atau kredit pajak dalam bentuk pemotongan/pemungutan pihak ketiga (PPh Pasal 21,22,23,24, dan Pasal 26 yang sifatnya tidak final)

Baca Juga: Apa Saja Kegiatan Usaha PPh Pasal 15

Penyebab SPT kurang bayar

Berdasarkan Undang-undang Pajak Penghasilan Pasal 29, jika pajak yang terutang untuk satu tahun pajak ternyata lebih besar dari kredit pajak, maka kekurangan pembayaran pajak yang terutang harus dilunasi sebelum SPT Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan.

Baca Juga: Perkiraan Pertbumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2020

Ketentuan ini mengharuskan WP melunasi kekurangan pembayaran pajak yang terutang sebelum SPT Tahunan disampaikan dan paling lambat pada batas akhir penyampaian SPT Tahunan.

Baca Juga: Menghemat Pengluaran Pajak Dengan Tax Planning

Penyebab lainnya yang memungkinkan SPT berstatus kurang bayar adalah WP belum melakukan pembayaran pajak atau belum mengisi tanggal pelunasan dengan benar.

Jika sudah melakukan pembayaran, tapi SPT masih berstatus kurang bayar, ada kemungkinan jumlah nominal yang dibayarkan kurang dari nilai kurang bayar pada SPT Pajak.

Status kurang bayar juga bisa terjadi, jika wajib pajak bekerja lebih dari satu perusahaan, dan penghasilannya belum melebihi penghasilan kena pajak yang pertama.

Sehingga masih dikenakan tarif 5 persen. Namun, setelah digabungkan, lapisan PKP naik ke lapisan kedua sehingga dikenakan tarif 15 persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

NAMA :
Nama belum di isi . . .
ALAMAT :
Alamat Belum Di Isi . . .
E-MAIL :
Masukkan Email Dengan Tepat . . .
NO HANDPHONE :
Nomor Telepon Belum Di Isi . . .
PESAN :
Pesan Masih Kosong . . .
close-link