Apa perbedaan antara PPh final dan tidak final? Seperti apa perbedaan diantara keduanya? Secara ringkas perbedaan antara PPh final dan tidak final adalah:

  1. Penghasilan PPh Tidak Final bisa digabung dengan penghasilan lain, namun pajak penghasilan final tidak bisa.
  2. PPh Tidak Final, biaya menghasilkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang dikenai PPh dapat dikurangkan. Namun biaya serupa pada pajak penghasilan final tidak dapat dikurangkan.
  3. PPh Tidak Final bisa memperhitungkan bukti potong sebagai kredit pajak bagi seorang wajib pajak. Namun pajak penghasilan final tidak mungkin melakukan hal tersebut.

Secara umum pajak penghasilan merupakan pajak penghasilan yang dirumuskan dari penghasilan yang diterima seperti : upah, royalty, gaji, dan lainnya.

PPh final yang diterima bisa dibedakan menjadi penghasilan yang merupakan sebuah objek pajak dan penghasilan yang bukan objek pajakj. Bagaimana cara membedakannya?

  1. Dikenakan PPh secara umum dengan tariff Pasal 17 dalam SPT Tahunan
  2. Dikenakan pajak penghasilan final

Tarif Pajak Penghasilan Final

Berdasarkan tarif pajak penghasilan final bagi umkm yaitu sebesar 0,5% untuk mengetahui bagaimana berdasarkan tarifnya yaitu :

  • Penghasilan sebagai omzet perusahaan atau usaha mencapai Rp 4,8 miliar dalam satu tahun.
  • Wajib pajak tetap dikenakan tarif pajak penghasilan final 1% hingga akhir tahun pajak yang bersangkutan jika omzet kumulatifnya tidak lebih dari Rp 4,8 miliar dalam setahun.
  • Sebagai wajib pajak badan dikenakan tarif PPh sesuai ketentuan UU Pajak Penghasilan jika omzet yang didapat lebih dari Rp 4,8 miliar dalam setahun.

Beberapa contoh penghasilan yang dikenai pajak penghasilan final, seperti:

  • Penghasilan dari transaksi penjualan saham
  • Penghasilan bunga atau diskonto obligasi di bursa efek
  • Penghasilan dari selisih lebih revaluasi aktiva tetap
  • Penghasilan perusahaan modal ventura
  • Perusahaan penerbangan luar negeri
  • Penghasilan BUT perwakilan dagang asing di Indonesia
  • Perusahaan pelayaran dalam dan luar negeri yang dapat dikenakan PPh Pasal 24
  • Penghasilan bunga deposito dan tabungan
  • Penghasilan atas hadiah dan undian
  • Penghasilan atas jasa konstruksi
  • Penghasilan atas transaksi derivatif
  • Penghasilan neto fiskal
  • Penghasilan atas pengalihan real estate dalam skema kontrak investasi kolektif tertentu.

Perbedaannya Dengan PPh Tidak Final

Sebagai PPh tidak final merupakan suatu penghasilan yang tidak akan dipotong saat itu juga. Wajib pajak akan dianggap belum melunasi kewajiban perpajakan untuk melaporkan pajak. Sehingga, transaksi baru akan dianggap lunas apabila perhitungan pajak di akhir tahun telah selesai.

Beberapa contoh PPh Tidak Final yaitu :

  • PPh Pasal 21: gaji, upah, honorarium untuk wajib pajak dalam negeri
  • PPh Pasal 22: impor, bendaharawan, migas, lelang
  • PPh Pasal 23: royalti, sewa selain tanah dan bangunan, jasa, dividen
  • PPh Pasal 24: PPh atas penghasilan WNI di luar negeri
  • PPh Pasal 25: angsuran PPh
  • PPh pasal 26: gaji, upah, honorarium untuk wajib pajak luar negeri
  • PPh pasal 28: pajak lebih bayar
  • PPh pasal 29: pajak kurang bayar
  • Pembayaran PPh Tidak Final

Dengan cara membayar PPh Tidak Final dalam tahun berjalan bisa dengan penyetoran atau pembayaran sendiri, atau dengan pemotongan dari pihak ketiga.

Dalam pelunasan PPh dalam tahun berjalan, pemotongan mekanismenya seperti :

  • Pemotongan PPh Pasal 22
  • Pemungutan PPh Pasal 23
  • Pemotongan atau Pemungutan PPh Pasal 26

Dengan pembayaran setoran pajak yang bersifat tidak final lainnya meliputi:

  • PPh Pasal 21 yang dipotong
  • PPh Pasal 22yang dipotong atau dipungut
  • PPh Pasal 23 yang dipotong
  • PPh Pasal 25 yang dibayar sendiri
  • PPh Pasal 15 yang dibayar sendiri atau dipotong

Setelah itu seluruh bukti potong PPh tidak final dapat dijadikan kredit pajak ketika mengisi formulir SPT Tahunan.

Dengan cara membayar PPh Tidak Final dalam tahun berjalan bisa dengan penyetoran atau pembayaran sendiri, atau dengan pemotongan dari pihak ketiga.

Dalam pelunasan PPh dalam tahun berjalan, pemotongan mekanismenya seperti :

  • Pemotongan PPh Pasal 22
  • Pemungutan PPh Pasal 23
  • Pemotongan atau Pemungutan PPh Pasal 26

Dengan pembayaran setoran pajak yang bersifat tidak final lainnya meliputi:

  • PPh Pasal 21 yang dipotong
  • PPh Pasal 22yang dipotong atau dipungut
  • PPh Pasal 23 yang dipotong
  • PPh Pasal 25 yang dibayar sendiri
  • PPh Pasal 15 yang dibayar sendiri atau dipotong

Setelah itu seluruh bukti potong PPh tidak final dapat dijadikan kredit pajak ketika mengisi formulir SPT Tahunan.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

NAMA :
Nama belum di isi . . .
ALAMAT :
Alamat Belum Di Isi . . .
E-MAIL :
Masukkan Email Dengan Tepat . . .
NO HANDPHONE :
Nomor Telepon Belum Di Isi . . .
PESAN :
Pesan Masih Kosong . . .
close-link