Bandung, BBF – Polemik Pajak Toge Productions mendadak jadi perbincangan hangat di industri gim Indonesia. Bermula dari unggahan CEO Toge Productions, Kris Antoni, yang mengeluhkan adanya tagihan pajak yang menurutnya terasa “dibuat-buat”. Bahkan, ia menyebut opsi memindahkan perusahaan ke luar negeri sebagai bentuk kekecewaan.
Isunya bukan soal bayar atau tidak bayar pajak. Tapi soal perlakuan biaya gaji karyawan selama masa development gim: apakah harus dikapitalisasi lalu diamortisasi, atau boleh dibebankan langsung sebagai biaya? Di sinilah polemiknya muncul.
Daftar isi
TogglePolemik Pajak Toge Productions dan Isu Amortisasi Biaya Development
Kris mempertanyakan koreksi pajak yang menyatakan biaya gaji selama pengembangan wajib diamortisasi. Menurutnya, amortisasi hanya berlaku jika biaya tersebut memang dikapitalisasi dan memenuhi syarat sebagai aset tak berwujud.
Secara akuntansi, amortisasi adalah pengalokasian biaya aset tak berwujud secara bertahap sesuai masa manfaatnya. Aturannya ada di PMK 72/2023 dan juga PSAK 19 yang merujuk ke IAS 38.
Tidak Semua Biaya Harus Dikapitalisasi
Ini poin pentingnya. Dalam praktik, biaya development bisa diperlakukan berbeda tergantung apakah memenuhi kriteria kapitalisasi atau tidak. Kalau sejak awal perusahaan tidak mengakui biaya itu sebagai aset tak berwujud, maka muncul pertanyaan: apa dasar mewajibkan amortisasi?
Di sisi lain, DJP menyampaikan bahwa perlakuan pajak ditentukan berdasarkan karakter biaya dan masa manfaatnya. Pemeriksaan disebut dilakukan profesional dan tetap membuka ruang klarifikasi. Artinya, dari sisi fiskus, ini soal interpretasi teknis. Dari sisi pelaku usaha, ini soal kepastian dan keadilan.
Respons CEO Agate dan Perspektif Standar Internasional
Dalam Polemik Pajak Toge Productions, CEO Agate, Shieny Aprilia, justru mengambil posisi berbeda. Ia menyatakan aturan tersebut bukan karangan lokal, melainkan adopsi standar internasional. PSAK 19 memang mengatur aset tak berwujud dan amortisasi secara jelas. Menurutnya, industri yang ingin matang harus siap mengikuti standar global.
Di sini terlihat perbedaan sudut pandang:
Satu melihatnya sebagai tekanan regulasi
Satu melihatnya sebagai konsekuensi profesionalisasi industri
Polemik Pajak Toge Productions sebenarnya membuka diskusi yang lebih besar: bagaimana perlakuan pajak terhadap industri kreatif yang berbasis intangible asset. Industri gim berkembang cepat. Model bisnisnya unik. Biaya development besar, hasilnya belum tentu pasti.
Yang dibutuhkan bukan cuma penegakan aturan, tapi juga dialog yang matang dan transparan. Karena pajak idealnya bukan sekadar alat pungut. Tapi sistem yang memberi kepastian, terutama untuk industri yang sedang tumbuh.
Dan di tengah polemik ini, satu hal jelas: Ekosistem kreatif butuh aturan yang tegas, tapi juga butuh ruang napas.
Urusan pajak menjadi lebih mudah
Bukan hanya kemudahan, Konsultan pajak bandung BBF siap membantu sahabat BBF dalam urusan perpajakan. Bersama kami, sahabat tidak perlu khawatir memikirkan urusan perpajakan.
Serahkan semuanya kepada kami, dan sahabat tetap bisa fokus dalam membangun bisnis Sehingga sahabat bisa mengehmat waktu dan tenaga untuk mengurus perusahaan.
Untuk akses lainnya bisa kunjungi melalui Instagram: @bisnisbestfriend atau bisa juga kunjungi tiktok kami bisnisbestfriend Jangan ragu untuk menghubungi kami hari ini untuk mendapatkan konsultasi gratis!
Klik tombol di sini atau hubungi kami di +62 821-2833-3701 untuk memulai. Jangan biarkan pajak menjadi beban, biarkan kami membantumu!










