Bandung, BBF – Kalau kamu atau rekanmu mau ikut ujian USKP kali ini, ada satu hal yang wajib diketahui: pengawasannya memakai AI proctoring lewat kamera depan laptop. Sistem ini bisa mengirim notifikasi untuk 9 kondisi tertentu, tapi AI bukan hakim. Keputusan curang atau tidaknya tetap ada di tangan pengawas manusia. Jadi, menoleh sebentar karena refleks tidak otomatis membuat peserta diblokir.
Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak (USKP) Periode III/2026 digelar 14 dan 15 Oktober 2026, sepenuhnya daring dari lokasi peserta masing-masing. Periode ini khusus bagi peserta yang masih punya kesempatan mengulang Tingkat A dan Tingkat B, dan menjadi periode terakhir sebelum berubah menjadi Uji Kompetensi Perpajakan (UKP). Aturan mainnya perlu dipahami betul, supaya calon konsultan pajak yang kelak mendampingi wajib pajak tidak rugi hanya karena salah paham soal teknis.
Ujian USKP Diawasi AI: 9 Kondisi yang Bisa Memicu Notifikasi
Cara Kerja Pengawasannya
Menurut pengumuman panitia, ujian berjalan lewat sistem computer assisted test (CAT) dengan tiga lapis pengawasan. Pertama, sistem ujiannya sendiri. Kedua, AI proctoring yang terintegrasi dengan sistem ujian. Ketiga, pengawas yang memantau langsung lewat aplikasi Zoom.
Pengawasan AI dilakukan lewat kamera depan laptop yang dipakai untuk ujian. Kalau sistem mendeteksi aktivitas atau kondisi yang terindikasi tidak sesuai ketentuan, sistem akan mengirim notifikasi. Tugas AI hanya memantau dan mencatat bukti indikasi pelanggaran sebagai bahan evaluasi.
9 Kondisi yang Bisa Terdeteksi
Merujuk Panduan Umum dan Teknis Ujian, ini sembilan kondisi yang bisa dianggap indikasi pelanggaran:
- Kamera tidak aktif atau wajah tidak terdeteksi.
- Peserta menoleh atau tidak menghadap layar.
- Ada lebih dari satu orang di depan perangkat.
- Peserta tidak sesuai dengan identitas yang terdaftar.
- Memakai handphone atau barang dan perangkat yang dilarang.
- Menjalankan aplikasi lain, termasuk aplikasi komunikasi, remote access, screen sharing, atau aplikasi AI.
- Terdeteksi suara atau percakapan yang mencurigakan.
- Memakai lebih dari satu perangkat atau sesi ujian.
- Indikasi perilaku atau aktivitas lainnya.
Poin terakhir sifatnya terbuka, jadi jangan menganggap daftar ini satu-satunya hal yang dipantau.
Apa yang Terjadi Kalau Notifikasi Menumpuk
Notifikasi saja belum berarti vonis. Menurut DDTCNews, akses ujian peserta dapat diblokir kalau akumulasi notifikasi mencapai batas maksimal yang sudah ditetapkan. Ketentuan teknis yang lebih rinci akan diatur dalam Pedoman Pelaksanaan Ujian.
Tim Pusbin JFPM menegaskan bahwa pengambil keputusan akhir soal kecurangan atau diskualifikasi tetap pengawas manusia. Jumlah pelanggaran juga tidak dinilai langsung saat ujian berlangsung. Buktinya dilihat kembali setelahnya, untuk memastikan apakah memang ada yang menyontek atau peserta hanya pegal. Dengan begitu, peserta punya perlindungan dari penilaian mesin yang kaku.
Dua Perangkat yang Wajib Disiapkan
Peserta harus menyiapkan dua perangkat. Perangkat pertama adalah laptop atau notebook yang sudah terpasang aplikasi Safe Exam Browser (SEB) untuk mengerjakan soal. Spesifikasinya harus sesuai ketentuan panitia.
Perangkat kedua bisa berupa laptop, ponsel, atau tablet yang sudah terpasang Zoom untuk pengawasan oleh manusia. Letakkan di posisi serong belakang peserta, sehingga layar perangkat pertama dan meja peserta terlihat oleh pengawas.
Tips Aman Menghadapi Ujian USKP Berbasis AI
Pertama, pastikan wajah selalu terlihat di kamera depan. Kalau tidak terlihat, sistem akan memberi peringatan. Kedua, tutup semua aplikasi lain sebelum mulai, terutama aplikasi komunikasi, remote access, screen sharing, dan aplikasi AI, karena semuanya masuk daftar kondisi yang bisa terdeteksi.
Ketiga, manfaatkan ujian uji coba. Pusbin JFPM menyarankan peserta mencoba semua gerakan di sana, misalnya menoleh, lalu melihat poin pelanggaran dan bukti yang muncul di sisi kanan atas layar. Dengan begitu, peserta tahu batas wajarnya sebelum hari ujian. Keempat, kalau refleks menoleh sebentar, tidak perlu panik. Menurut Pusbin JFPM, hal itu tidak langsung membuat peserta diblokir.
Kesimpulan
AI proctoring di ujian ini bekerja sebagai pencatat, bukan penentu. Sembilan kondisi tadi bisa memicu notifikasi, dan akumulasi yang melewati batas bisa berujung pemblokiran akses. Tapi keputusan akhir tetap di pengawas manusia yang meninjau bukti. Peserta yang paham aturan, menyiapkan dua perangkat dengan benar, dan sudah berlatih sebelumnya akan jauh lebih tenang saat ujian. Itu juga bagus untuk wajib pajak, karena pendampingnya masuk ke profesi dengan proses yang jelas dan terukur.
FAQ
Apakah ujian USKP yang diawasi AI bisa langsung memblokir peserta?
Tidak langsung. Akses ujian baru bisa diblokir kalau akumulasi notifikasi mencapai batas maksimal. Keputusan akhir soal kecurangan tetap ada di pengawas manusia.
Bagaimana kalau wajah tidak terlihat di kamera?
Sistem ujian akan memberi peringatan. Karena itu, pastikan wajah selalu terlihat dari kamera depan laptop.
Berapa perangkat yang harus disiapkan?
Dua perangkat. Satu laptop dengan SEB untuk mengerjakan soal, satu lagi laptop, ponsel, atau tablet dengan Zoom untuk pengawasan oleh manusia.
Apakah menoleh sebentar langsung dianggap curang?
Tidak. Menurut Pusbin JFPM, menoleh sebentar karena refleks tidak langsung diblokir. Bukti pelanggaran dinilai ulang oleh pengawas manusia.
Urusan pajak menjadi lebih mudah
Bukan hanya kemudahan, Konsultan pajak BBF siap membantu dalam urusan perpajakan. Bersama kami, sahabat tidak perlu khawatir memikirkan urusan perpajakan.
Serahkan semuanya kepada kami, dan sahabat tetap bisa fokus dalam membangun bisnis Sehingga sahabat bisa mengehmat waktu dan tenaga untuk mengurus perusahaan.
Untuk akses lainnya bisa kunjungi melalui Instagram: @bisnisbestfriend atau bisa juga kunjungi tiktok kami bisnisbestfriend Jangan ragu untuk menghubungi kami hari ini untuk mendapatkan konsultasi gratis!
Klik tombol di sini atau hubungi kami di +62 821-2833-3702 untuk memulai. Jangan biarkan pajak menjadi beban, biarkan kami membantumu!










