10 Juta Kelas Menengah Hilang, Basis Pajak Indonesia Kian Sempit

10 Juta Kelas Menengah Hilang, Basis Pajak Indonesia Kian Sempit

Bandung, BBF – Fenomena 10 Juta Kelas Menengah yang hilang dalam enam tahun terakhir menjadi alarm serius bagi ekonomi nasional. Menyusutnya kelompok ini tidak hanya berdampak pada daya beli masyarakat, tetapi juga mengancam basis penerimaan pajak negara yang selama ini bertumpu pada konsumsi rumah tangga.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebut bahwa perubahan struktur sosial ekonomi ini membuat basis pajak semakin sempit. Sebagian besar masyarakat yang sebelumnya berada di kelas menengah kini bergeser menjadi kelompok aspiring middle class atau kelas menengah rentan.

Kelompok ini sangat sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, listrik, dan energi. Ketika harga naik, mereka dengan cepat mengurangi konsumsi. Dampaknya langsung terasa pada penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

10 Juta Kelas Menengah dan Dampaknya ke Penerimaan Pajak

Hilangnya 10 Juta Kelas Menengah berdampak besar terhadap pola belanja masyarakat. Kelas menengah selama ini menjadi penggerak utama konsumsi nasional.

Mulai dari belanja rumah tangga, pendidikan, transportasi, hingga transaksi digital. Ketika kelompok ini menyusut, otomatis pengeluaran rumah tangga ikut terkompres.

Akibatnya, penerimaan pajak dari sisi konsumsi juga ikut tergerus. Hal ini terutama memengaruhi PPN, yang sangat bergantung pada transaksi barang dan jasa.

Selain itu, ruang untuk memperluas penerimaan dari PPh orang pribadi juga relatif terbatas. Pasalnya, jumlah kelompok affluent atau berpenghasilan tinggi di Indonesia masih di bawah 5% dari total populasi.

Ini membuat basis pajak dari sisi penghasilan juga tidak terlalu lebar.

Jadi Alarm Ekonomi Nasional

Fenomena 10 Juta Kelas Menengah yang turun kelas bukan hanya isu statistik, tetapi sinyal bahwa daya tahan ekonomi masyarakat sedang melemah.

Ketika harga pangan dan energi naik, kelompok ini paling cepat terdampak. Jika kondisi ini berlanjut, penerimaan pajak negara berisiko semakin tertekan.

Pemerintah perlu menjaga daya beli dan memperkuat ekonomi rumah tangga agar basis pajak tidak semakin menyempit. Karena pada akhirnya, penerimaan negara yang sehat sangat bergantung pada kekuatan kelas menengah.

FAQ

1. Kenapa hilangnya kelas menengah berdampak ke pajak?
Karena konsumsi rumah tangga turun sehingga penerimaan PPN ikut melemah.

2. Apa itu kelas menengah rentan?
Kelompok yang mudah turun kelas saat harga kebutuhan pokok naik.

3. Apa dampaknya bagi negara?
Basis pajak semakin sempit dan penerimaan negara berisiko menurun.

Urusan pajak menjadi lebih mudah

Bukan hanya kemudahan, Konsultan pajak bandung BBF siap membantu sahabat BBF dalam urusan perpajakan. Bersama kami, sahabat tidak perlu khawatir memikirkan urusan perpajakan.

Serahkan semuanya kepada kami, dan sahabat tetap bisa fokus dalam membangun bisnis Sehingga sahabat bisa  mengehmat waktu dan tenaga untuk mengurus perusahaan.

Untuk akses lainnya bisa kunjungi melalui Instagram: @bisnisbestfriend atau bisa juga kunjungi tiktok kami bisnisbestfriend Jangan ragu untuk menghubungi kami hari ini untuk mendapatkan konsultasi gratis!

Klik tombol di sini atau hubungi kami di +62 821-2833-3701 untuk memulai. Jangan biarkan pajak menjadi beban, biarkan kami membantumu!

Follow dan kunjungi kami melalui:
X (Twitter)
Visit Us
Follow Me
Bagikan artikel ini
Mochamad Fajar Aulia
Mochamad Fajar Aulia
Articles: 1521

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *