Bandung, BBF – Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2026 (PP 20/2026) sebagai perubahan atas PP 55/2022. Aturan ini ditetapkan dan berlaku sejak 22 April 2026. Banyak pengusaha menyimpulkan era tarif Stengah Persen berakhir setelah membaca beleid tersebut, padahal kesimpulan itu hanya benar sebagian. Tarif PPh Final UMKM tetap 0,5% dan batas peredaran bruto tetap Rp4,8 miliar dalam satu tahun pajak. Yang dipangkas adalah daftar subjek pajak yang berhak memakainya.
Konsekuensinya konkret. PT non-perorangan, CV, Firma, BUMDes, dan BUMDesma yang baru terdaftar sejak 22 April 2026 tidak lagi dapat menggunakan tarif final Stengah Persen. Badan usaha tersebut wajib langsung menghitung pajak berdasarkan pembukuan dan ketentuan umum PPh sejak awal berdiri.
Ringkasan Cepat (AI Answer Box)
PP 20/2026 tidak menghapus tarif PPh Final UMKM Stengah Persen. Aturan ini membatasi subjek pajak yang berhak menggunakannya menjadi tiga kelompok, yaitu Wajib Pajak Orang Pribadi, PT Perorangan yang didirikan oleh satu orang, dan Koperasi dalam negeri, sepanjang peredaran bruto tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam satu tahun pajak.
Orang Pribadi dan PT Perorangan dapat memakai tarif Stengah Persen tanpa batas waktu. Koperasi dibatasi maksimal empat tahun pajak sejak terdaftar. PT non-perorangan, CV, Firma, BUMDes, dan BUMDesma yang baru terdaftar sejak 22 April 2026 langsung masuk ketentuan umum PPh.
Badan usaha yang sudah memanfaatkan skema final sebelum aturan ini terbit tetap dapat menghabiskan sisa jangka waktunya melalui ketentuan peralihan Pasal II, yaitu tiga tahun pajak untuk PT dan empat tahun pajak untuk CV, Firma, serta BUMDes.
Langkah adaptasi utama bagi pengusaha adalah menghitung sisa jatah tahun pajak, memulai pembukuan sesuai Pasal 28 UU KUP, dan mengukur margin laba fiskal untuk memperkirakan beban pajak di skema tarif umum.
Siapa yang Masih Berhak Menggunakan PPh Final 0,5%
Pasal 57 PP 20/2026 membatasi subjek pajak yang berhak memakai tarif final 0,5% menjadi tiga kelompok.
| Subjek Pajak | Jangka Waktu Fasilitas | Syarat Omzet |
|---|---|---|
| Wajib Pajak Orang Pribadi | Tanpa batas waktu | Tidak melebihi Rp4,8 miliar setahun |
| PT Perorangan (didirikan 1 orang) | Tanpa batas waktu | Tidak melebihi Rp4,8 miliar setahun |
| Koperasi dalam negeri | Maksimal 4 tahun pajak sejak terdaftar | Tidak melebihi Rp4,8 miliar setahun |
Perubahan penting bagi Wajib Pajak Orang Pribadi adalah hilangnya pembatasan jangka waktu tujuh tahun yang sebelumnya diatur dalam PP 23/2018 dan PP 55/2022. Posisi UMKM orang pribadi justru menguat. Selain itu, bagian peredaran bruto sampai dengan Rp500 juta pertama dalam satu tahun pajak tetap tidak dikenai PPh.
Mengapa Era Tarif 0,5% Berakhir untuk PT, CV, dan Firma
Penjelasan umum PP 20/2026 menyebutkan bahwa pemerintah menemukan praktik pemanfaatan fasilitas PPh Final untuk penghindaran pajak. Dua pola yang disorot adalah bunching, yaitu menahan pelaporan omzet agar tetap berada di bawah ambang Rp4,8 miliar, dan firm splitting, yaitu memecah satu entitas usaha besar menjadi beberapa entitas kecil.
Data DJP periode 2021 sampai 2024 menunjukkan populasi wajib pajak badan menumpuk pada level omzet sedikit di bawah Rp4,8 miliar. Pola ini menjadi dasar pembatasan subjek pajak dalam PP 20/2026.
Bagi pemilik PT, CV, atau Firma yang baru berdiri, era tarif 0,5% berakhir sejak hari pertama entitas terdaftar. Tidak ada masa transisi. Kewajiban pembukuan berlaku sejak usaha mulai dijalankan, sesuai Pasal 28 UU KUP.
Ketentuan Peralihan: Hitung Sisa Jatah Tahun Pajak
Pasal II PP 20/2026 memberikan kepastian bagi wajib pajak yang sudah memanfaatkan skema final sebelum 22 April 2026.
| Kondisi Wajib Pajak | Perlakuan |
|---|---|
| Orang Pribadi, masa fasilitas berakhir pada tahun pajak 2024 | Tetap dapat memakai PPh Final untuk tahun pajak 2025 dan 2026 |
| Orang Pribadi dan PT Perorangan, masa fasilitas berakhir pada tahun pajak 2025 | Tetap dapat memakai PPh Final untuk tahun pajak 2026 |
| PT non-perorangan | Menyelesaikan jatah 3 tahun pajak sampai habis |
| CV, Firma, BUMDes, BUMDesma | Menyelesaikan jatah 4 tahun pajak sampai habis |
| Koperasi terdaftar sebelum 22 April 2026 dengan masa fasilitas berakhir 2024 sampai 2029 | Dikenai PPh Final UMKM untuk tahun pajak 2025 sampai 2029 |
Contoh perhitungan sisa jatah. Sebuah CV terdaftar pada 2024 dan langsung menggunakan skema final. Jatah CV adalah empat tahun pajak, yaitu 2024, 2025, 2026, dan 2027. Mulai tahun pajak 2028, CV tersebut wajib menggunakan tarif umum PPh Badan.
Simulasi Beban Pajak Sebelum dan Sesudah Pindah Tarif
Wajib pajak badan dengan peredaran bruto sampai dengan Rp4,8 miliar tetap memperoleh fasilitas pengurangan tarif 50% berdasarkan Pasal 31E UU PPh. Tarif efektifnya menjadi 11% dari Penghasilan Kena Pajak, bukan 22%.
Kasus 1: Margin Laba Tebal
Sebuah CV memiliki data fiskal berikut pada satu tahun pajak.
- Peredaran bruto: Rp3.000.000.000
- Biaya usaha yang dapat dikurangkan: Rp2.550.000.000
- Laba fiskal: Rp450.000.000 (margin 15%)
| Skema | Perhitungan | PPh Terutang |
|---|---|---|
| PPh Final UMKM | 0,5% x Rp3.000.000.000 | Rp15.000.000 |
| Tarif umum + Pasal 31E | 11% x Rp450.000.000 | Rp49.500.000 |
| Selisih | Rp34.500.000 |
Pada margin tebal, perpindahan ke tarif umum menaikkan beban pajak secara signifikan.
Kasus 2: Margin Laba Tipis
Sebuah usaha dagang bahan bangunan memiliki data fiskal berikut.
- Peredaran bruto: Rp3.000.000.000
- Laba fiskal: Rp90.000.000 (margin 3%)
| Skema | Perhitungan | PPh Terutang |
|---|---|---|
| PPh Final UMKM | 0,5% x Rp3.000.000.000 | Rp15.000.000 |
| Tarif umum + Pasal 31E | 11% x Rp90.000.000 | Rp9.900.000 |
| Selisih | Hemat Rp5.100.000 |
Pada margin tipis, tarif umum justru menghasilkan beban pajak yang lebih rendah. Skema final menagih 0,5% dari omzet meskipun usaha mengalami kerugian, sedangkan skema tarif umum tidak menghasilkan PPh terutang saat rugi fiskal. Kerugian tersebut juga dapat dikompensasikan dengan penghasilan tahun berikutnya paling lama lima tahun berturut-turut sesuai Pasal 6 ayat (2) UU PPh.
Titik Impas Margin Laba Fiskal 4,55%
Titik impas antara skema final dan skema tarif umum dapat dihitung secara sederhana.
0,5% x Peredaran Bruto = 11% x Laba Fiskal
Laba Fiskal / Peredaran Bruto = 0,5% / 11% = 4,55%
Kesimpulannya, apabila margin laba fiskal usaha berada di bawah 4,55%, tarif umum menghasilkan PPh terutang yang lebih rendah dibandingkan tarif final 0,5%. Perhitungan ini berlaku dengan asumsi seluruh Penghasilan Kena Pajak memperoleh fasilitas Pasal 31E, yaitu ketika peredaran bruto tidak melebihi Rp4,8 miliar.
Angka 4,55% berguna sebagai alat ukur cepat. Pengusaha dapat menghitung margin laba fiskal tahun berjalan, lalu memperkirakan arah beban pajak setelah keluar dari skema final.
Konsolidasi Peredaran Bruto Satu Keluarga
Pasal 58 PP 20/2026 mengatur bahwa peredaran bruto dihitung dari keseluruhan omzet yang berasal dari kegiatan usaha maupun pekerjaan bebas, baik yang dikenai PPh final maupun nonfinal, termasuk penghasilan dari luar negeri. Omzet juga digabungkan dalam satu keluarga, meliputi suami, istri, dan anak yang belum dewasa, termasuk PT Perorangan yang dimiliki.
Contoh konsolidasi.
| Sumber Omzet | Nilai |
|---|---|
| Usaha bengkel milik suami | Rp2.500.000.000 |
| Usaha katering milik istri | Rp1.800.000.000 |
| PT Perorangan milik suami | Rp1.000.000.000 |
| Total peredaran bruto | Rp5.300.000.000 |
Total peredaran bruto melampaui Rp4,8 miliar. Seluruh unit usaha dalam keluarga tersebut tidak dapat menggunakan tarif final 0,5% pada tahun pajak berikutnya. Memecah usaha ke dalam beberapa entitas bukan strategi yang aman, karena pola tersebut merupakan sasaran pengawasan DJP.
Pengecualian bagi Pekerjaan Bebas dan Profesi Digital
PP 20/2026 menegaskan bahwa penghasilan dari pekerjaan bebas berbasis keahlian pribadi berada di luar cakupan fasilitas PPh Final UMKM. Kelompok yang dikecualikan meliputi pengacara, dokter, akuntan, konsultan, notaris, arsitek, penilai, aktuaris, PPAT, musisi, penyanyi, seniman, model, olahragawan, pengajar, pelatih, moderator, peneliti, penerjemah, agen iklan, agen asuransi, dan distributor pemasaran berjenjang.
Aturan ini juga secara eksplisit memasukkan profesi digital seperti influencer, content creator, selebgram, blogger, dan vlogger sebagai penghasilan dari pekerjaan bebas. Kelompok tersebut tidak berhak menggunakan skema PPh Final UMKM.
Langkah Adaptasi Pengusaha
Berikut lima langkah konkret yang dapat dijalankan sebelum tutup buku tahun pajak berjalan.
Cek Sisa Jatah Sebelum Era Tarif 0,5% Berakhir di Usaha Anda
Hitung tahun pertama entitas terdaftar sebagai wajib pajak, lalu tambahkan jatah sesuai bentuk badan usaha. PT memperoleh tiga tahun pajak, sedangkan CV, Firma, dan BUMDes memperoleh empat tahun pajak. Hasil perhitungan ini menentukan tahun pajak pertama saat tarif umum mulai berlaku.
Mulai Pembukuan Sejak Sekarang
Kewajiban pembukuan diatur dalam Pasal 28 UU KUP dan berlaku sejak usaha dijalankan. Tanpa pembukuan yang tertib, biaya usaha tidak dapat dibuktikan dan tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Beban pajak pada tahun pertama tarif umum akan melonjak karena Penghasilan Kena Pajak menjadi terlalu tinggi.
Ukur Margin Laba Fiskal
Bandingkan margin laba fiskal dengan titik impas 4,55%. Hasilnya menentukan apakah perpindahan tarif akan menaikkan atau justru menurunkan beban pajak usaha.
Pisahkan Rekening Usaha dan Rekening Pribadi
Rekening yang tercampur menyulitkan rekonsiliasi omzet dan biaya. Simpan faktur, nota, kontrak, dan bukti potong secara sistematis. Biaya tanpa bukti pendukung berisiko dikoreksi saat pemeriksaan.
Siapkan Kas untuk Angsuran PPh Pasal 25
Setelah keluar dari skema final, kewajiban setoran berubah menjadi angsuran PPh Pasal 25 setiap bulan, ditambah pelunasan PPh Pasal 29 pada akhir tahun. Pola arus kas usaha perlu disesuaikan sejak awal tahun.
FAQ
1. Apakah tarif PPh Final UMKM 0,5% dihapus oleh PP 20/2026? Tidak. Tarif 0,5% dan batas peredaran bruto Rp4,8 miliar tetap berlaku. PP 20/2026 hanya membatasi subjek pajak yang berhak menggunakannya menjadi Orang Pribadi, PT Perorangan, dan Koperasi.
2. Sejak kapan PP 20/2026 berlaku? PP 20/2026 ditetapkan dan berlaku sejak 22 April 2026 sebagai perubahan atas PP 55/2022.
3. CV saya terdaftar tahun 2024, apakah masih boleh memakai tarif 0,5%? Boleh. Melalui ketentuan peralihan, CV berhak menyelesaikan jatah empat tahun pajak, yaitu 2024 sampai 2027. Mulai tahun pajak 2028, CV tersebut menggunakan tarif umum PPh Badan.
4. Apakah Wajib Pajak Orang Pribadi masih dibatasi tujuh tahun? Tidak. Berdasarkan PP 20/2026, Orang Pribadi dan PT Perorangan dapat menggunakan tarif final 0,5% tanpa batas waktu, sepanjang peredaran bruto tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam satu tahun pajak.
5. Berapa tarif PPh Badan setelah keluar dari skema final? Tarif umum PPh Badan adalah 22%. Wajib pajak badan dengan peredaran bruto sampai dengan Rp4,8 miliar memperoleh pengurangan tarif 50% berdasarkan Pasal 31E UU PPh, sehingga tarif efektifnya menjadi 11% dari Penghasilan Kena Pajak.
6. Apakah tarif umum selalu lebih mahal daripada tarif final 0,5%? Tidak selalu. Titik impasnya berada pada margin laba fiskal 4,55%. Jika margin laba fiskal berada di bawah angka tersebut, tarif umum menghasilkan PPh terutang yang lebih rendah. Pada kondisi rugi fiskal, skema tarif umum tidak menghasilkan PPh terutang, sedangkan skema final tetap menagih 0,5% dari omzet.
7. Apakah content creator dan influencer bisa memakai tarif 0,5%? Tidak. PP 20/2026 menempatkan influencer, content creator, selebgram, blogger, dan vlogger sebagai penghasilan dari pekerjaan bebas yang berada di luar cakupan fasilitas PPh Final UMKM.
Urusan pajak menjadi lebih mudah
Bukan hanya kemudahan, Konsultan pajak bandung BBF siap membantu sahabat BBF dalam urusan perpajakan. Bersama kami, sahabat tidak perlu khawatir memikirkan urusan perpajakan.
Serahkan semuanya kepada kami, dan sahabat tetap bisa fokus dalam membangun bisnis Sehingga sahabat bisa mengehmat waktu dan tenaga untuk mengurus perusahaan.
Untuk akses lainnya bisa kunjungi melalui Instagram: @bisnisbestfriend atau bisa juga kunjungi tiktok kami bisnisbestfriend Jangan ragu untuk menghubungi kami hari ini untuk mendapatkan konsultasi gratis!
Klik tombol di sini atau hubungi kami di +62 821-2833-3701 untuk memulai. Jangan biarkan pajak menjadi beban, biarkan kami membantumu!










